Akulah Legenda
Oleh : Dede Ubaidillah L.Z
Novelet referensi fiktif
dengan kuakan perjuangan dan cinta
Hatinya terus bergetar-getar kala wawancara itu tengah berlangsung, jika tiada teguh kepercayaan, mungkin ia telah meninggalkan semua pertanyaan itu.
Matanya mulai berkaca ketika terpojokan beberapa pertanyaan tentang dirinya terhadap gedung tua yang ada dibelakangnya, seakan ia merasa takut dan sedih disaat ia harus mengungkap kembali semua yang berkaitan dengan gedung peninggalan kekaisaran belanda dan kemudian diisi oleh sekutu jepang itu.
Sosok bapak tua empat orang anak itu terus tundukan kepala dihadapan para peneliti sejarah yang tengah mengelilinginya, meski terlihat tubuhnya yang masih kekar dan rambut yang berbias putih itu ternyata tidak setegar yang terkira. Meski ia seorang pejuang kemerdekaan dahulu, namun ketika hendak mengungkap sejarahnya, jiwanya seakan mengkerut tidak bernyawa.
" Dahulu, Bapak seorang pejuang yang cukup gigih untuk kalian sekarang ini, ikut menumbangkan benteng Jendral Mc. Arthur adalah hal abadi yang pernah bapak lakukan, namun semuanya kini tiada artinya lagi ". Bapak Yazid Yasmin mulai menceritakan pengalamannya.
" Namun hal apakah yang membuat bapak berkata demikian ?, tidakkah kini bapak telah berhasil dengan semua usaha bapak ? ". Tanya salah seorang dari peneliti sejarah itu.
Sesekali Bapak Yazid Yasmin berkedip dan pejamkan matanya perlahan, seakan ia ingin menceritakan semua pengalaman yang telah dialaminya itu. Ia pun terus tegarkan diri untuk mencoba mengungkapkannya lagi.
" Dahulu.....". Ia mulai berargumen.
Bapak Yazid Yasmin pun menceritakan dari awal masa Kolonial Belanda mulai bertempur dengan rakyat Indonesia untuk yang terakhir kalinya. Ia bilang, Dengan bersatunya rakyat Indonesia waktu itu, kolonial Belanda pun dapat angkatkan kaki dari tanah negeri ini. Jelasnya.
" Terus apa yang terjadi pak, setelah semua Kolonial belanda itu angkat kaki dari negeri kita ini ?". Tanya peneliti itu ia mulai lagi.
Darah pun berserakan, namun tiada jasad para Kolonial Belanda atau pun rakyat pribumi waktu itu. Pemandangan mengerikan itu aku lihat setelah rakyat pribumi membersihkan serta mengevakuasi semua korban dari pertempuran itu.
Waktu itu umurku kurang dari sembilan belas tahun, meski aku sangat remaja sekali saat itu, namun dapat aku dapat mengenang semuanya abadi dan tidak akan terlupakan dalam benakku. Namun seling beberapa saat, mimpi buruk yang tidak terduga pun mulai terlintas tanpa sepengetahuan rakyat pribumi.
Mula-mula Kekaisaran Jepang ke negeri ini untuk masalah perdagangan, terus mereka pun mulai memonopolinya seperti Kalonial Belanda dahulu, dengan sangat licik dan kejam. Hingga Kekaisaran Jepang pun mulai ikut campur tangan dalam masalah pemerintahan yang masih kosong dan rapuh itu, serta turut menguasai setiap apa yang ada dalam gerakan rakyat Indonesia dengan waktu yang sangat singkat sekali. Bahkan mereka lebih kejam dan pintar dari Penjajahan Belanda.
Kekejaman dan pembunuhan kini terasa bukan hanya dalam bidang perdagangan saja, mereka pun merebut pemerintahan Indonesia yang masih kosong kepeminpinan waktu itu. Selir beberapa saat pun Kekaisaran Jepang mulai menjajah negeri kita seutuhnya. Adanya anutan Hokkaichu, kerja rodi dan pajak paksa membuat rakyat pribumi menjadi semakin terlihat tertindas setelah kemenangan atas Kolonial Belanda waktu itu, jelasnya.
Masih teringat jelas saat semua itu terasakan oleh kami, namun sebelum semua itu terjadi ayah ku lebih dulu gugur saat mengusir Kolonial Belanda sebelumnya.
Aku hidup dengan ibu dan kedua adik ku, tiada kakek ataupun nenek serta saudara sekeluarga lain yang turut hidup bersama keluargaku. Tidak heran keluargaku menjadi ambing-ambing keinginan tentara Jepang, memberikan pajak paksa dan upeti setiap bulannya, dengan itulah aku dan ibu ku bekerja di ladang untuk memenuhi keinginan mereka semata, sedangkan kami sendiri hanya mencukupi kebutuhan dari sisa upeti dan pajak bumi dari ladang kami tersebut.
Dahulu, saat aku tengah mengantarkan upeti untuk mereka, saat itu aku terlambat. Jadi, akupun harus mengantarkan langsung ke benteng tentara Jepang yang tidak jauh dari desa kami jika lewat jalan yang di bangun mereka.
Didepan benteng yang laksana neraka itu aku terhenti sejenak, kulihat darah merah masih tercecer basah menyepikan kepala dan hatiku untuk terus melangkah masuk, namun demi keselamatan keluargaku aku harus sampaikan upeti ini untuk mereka yang ada didalam sana. Didalam sana, Pukulan dan cambukan pun tidak luput aku dapatkan karena terlambat pajak. Aku hanya bisa tertunduk melihati mereka membawa dan merapikan hasil upeti itu dariku untuk mereka, saat itu aku menangis,
" Aku tidak rela jika hidup kami terus seperti ini. Ini tanah kami, dan kami pula yang menggarapnya. Mereka tiada hak untuk lakukan semua ini ". Gumanku dalam hati yang membasah.
Seling beberapa saat Kaisar Tsukioka Yoshitoshi pun turut keluar melihat pemandangan yang pilu itu bersama anak tunggalnya. Keduanya melihati ku, dan aku pun melihat sejenak meminta ampun. Anak nya begitu cantik juita melihati ku pula penuh iba. Namun, saat aku lakukan itu beberapa kali kepalaku tersuntung hunusan sepatu pengawal kaisar yang ada dibelakangku.
" Biarlah, Papa..Ia telah berikan upetinya, sekarang lepaskanlah ia...". Ucap anak gadis tunggal itu kepada ayahnya.
Berkali ia melihat ku, wajahnya semakin elok menanggapi. Rambutnya yang hitam mengurai keramahan hati yang tidak kunjung lepas ku pandangi meski sesaat. Namun, akhirnya dengan rasa sakit yang baru ku rasakan dengan sepatu pengawal itu akupun tundukan kepala.
" Terima kasih Tuan Puteri..". Ucapku sembari kaki-kaki pengawal itu menendangku mengusir.
Aku terus terpikirkan gadis itu hingga aku sesampainya di rumah. Aku tidak bisa melepaskan ingatanku kepadanya. Bodohnya, aku berharap ia rasakan hal serupa dengan ku.
" Haha.. Namun tidaklah semua itu mungkin ". Gumanku dalam hati melupakan.
Setelah itupun aku kembali ke ladang meneruskan pekerjaan ku. Lelah dan kesal ku geluti disana dengan cangkul yang terus kukayuh, namun tiada ku rasa lelah dengan semangat ibuku yang terus membantu. Ladangku terletak di tepi jalan dimana para tentara Jepang biasa lewat ketika hendak pulang dan berangkat, para tentara Jepang bisa leluasa melihatiku, terkadang cemooh dan hura mereka pun keluar untuk menakutiku.
Seminggu kemudian aku kembali ke ladang, bebrapa hari lalu ibuku jatuh sakit, hingga akhirnya aku sendiri yang mengerjakan semua lahan itu. Tiba aku beristirahat sejenak lepaskan lelah dan dahaga, dibawah rindangnya pohon singkongku yang menjulang tinggi keudara tiada sahabat yang menyapa hanya desiran angin gersang yang menyapu tetes demi tetes keringat di pipiku.
Terdengar suara injakan kuda membentur tanah terdengar mendekat, akupun bersembunyi mengintip dengan takut tentara Jepang melihatiku. Namun langkah itu sekejap menghilang ditepi jalan sana, ku coba melihat dengan sembunyi. Kulihat seekor kuda betina yang berhenti di tepi ladangku, ku coba untuk hampiri dan ternyata sosok penunggang itu tengah beristirahat dibawah pohon kelapa di pinggiran jalan sana. Ku coba terus hampiri, kian dekat kian jelas rambut yang mengurai itu.
" Tuan putri, mengapa disini sendirian ? "
" Tidakkah bersama pengawalmu ? ". Tanyaku memulai.
" Jangan mendekat !! "
" Aku tidak akan menyakitimu, tinggalkan aku ! ". Pintanya dengan perasaan takut.
" Maaf tuan puteri, ini tanah ku dan tidak sepantasnya tuan puteri berkata seperti itu ". Jelasku menembahkan.
Ia tidak berkata, ia juga tidak lagi terlalu merasa ketakutan. Setelah hatinya kian mereda ia mulai menghampiri, perlahan ia tatap wajahku dengan terus mendekat, mendekat dan terus mendekatiku.
" Puteri, parasmu begitu elok, aku terbangga bisa melihatimu disini ". Ucapku menenangkan jiwanya.
Ia pun mengubah rautnya, ia mulai merasa terbuka dengan cerita tentang kehidupannya, tentang darah dan keserakahannya terhadap rakyat pribumi.
" Kini tentara ayahku telah menguasai negerimu seluruhnya. Setelah Jendral Mc Arthur meninggalkan negerimu dahulu pamanku Yogyu Jubei Portrait mulai mengambil alih kekuasaan dan ayahku Tsukioka Yoshitoshi bertugas di daerahmu ini, aku tahu ini tidaklah benar, dengan rampasan hak negerimu aku dan segenap tentara ayahku hidup di negerimu yang kaya ini ". Jelasnya memulai.
" Aku tiada teman yang menemani di rumah, hingga aku berjalan dengan kuda itu, aku ingin berhenti dari kehidupanku yang melelahkan itu ". Terangnya terus bercerita.
" Namaku Okuya Yoshitoshi, anak tunggal Kaisar Tsukioka Yoshitoshi itu. Kau juga pernah melihat ku kan beberapa hari lalu ?". Tanya nya penuh ramah.
" Iya, terimakasih tuan puteri, kau telah meringankanku waktu itu ". Jelasku.
Cakapan pun mulai tidak terkendali dengan pengalaman masing-masing, hidupnya juga hidupku, mungkin terasa berbeda sekali. Namun, apa yang ia katakan kini aku juga turut katakan. Gadis yang bernama Okuya Yoshitoshi itu pun mulai ku panggil dengan sebutan " Anya ". Ketika ku sebutkan nama itu, ia pun menoleh dan ia membalas ku juga dengan sebutan nama lengkap ku " Yazid ".
Beberapa hari kedepannya Okuya sering menemuiku di ladang, hanya untuk bercakap dan bercerita bersamaku. Hati kecilku merasa bahagia bisa seperti itu. Saat pertama jumpa aku merasa terpesona dengan paras dan hatinya, kepolosannya membuat merasa ku seperti ia gadis pribumi. Namun, kadang semua kesalahan ayah dan bala tentaranya sering kali datang untuk ku menyakitinya.
" Pecundang !!..". Gentak temanku ketika sesampainya aku di rumah.
" Mangapa kau dekati anak centeng itu ?. Kau ingin jadi sekutu Jepang !!". Tanya temanku itu memarahiku.
" Ibu juga kecewa dengan mu, zid !. Ucap ibuku yang tiba keluar dari ruangan sebelah.
Ternyata temanku Taha tadi melihatku bersama Okuya di ladang, Taha pun menceritakan semuanya kepada ibuku kemudian. Ibu dan teman ku satu-satunya itu marah bukan kepalang, mereka mengira aku telah menodai dan menghianati pejuang-pejuang terdahulu kami. Mereka lebih sering membantu kekaisaran Jepang dalam merauk keuntungan dibanding ketersiksaan rakyat pribumi kami.
" Tidak, bu..".
" Taha dengarkan aku, Okuya datang ke ladang hanya untuk bercakap dengan ku, semua itu tidak seperti yang kau kira ". Jelasku.
" Bercakap-cakap..". Potong Taha mulai mengesal.
" Ibu, maafkan aku, bu. Aku tidak bisa lepaskan semua ini, bu ".
" Aku mencintai Okuya, bu ". Jelasku mengungkapkan.
Ibu ku dan Taha sejenak terdiam seperti merasakan apa yang ku rasakan, tiada kata larangan ataupun semisalnya untukku dengan semua itu. Mereka hanya bisa meninggalkan ku perlahan di ruangan itu dengan rasa kecewa.
Kini tiba kembali saatnya aku harus memberikan upeti kepada tentara Jepang. Minggu lalu kami hanya sibuk berdiam diri dengan perasaan ku itu terhadap Okuya, ibu ku yang masih kecewa membuatnya berdiam tanpa sapa, hingga kami tidak memberikan upeti minggu kemarin.
" Bu, ini yazid sudah siapkan upeti untuk penjilat itu, yazid izin pergi mengantarkannya ". Ucapku sore itu memulai cakap baru.
" Yazid, lebih baik ibu saja yang pergi ke benteng Jepang itu, ibu lebih takut jika kamu menemui gadis centeng Jepang itu ". Jawab ibuku penuh sindiran marah.
Ibuku pun berangkat dengan bawaannya yang ku ambil tadi dari ladang, sepertikan tersedih dalam hati ia rasakan. Namun, beberapa jam aku tunggu ia tidak kunjung pulang, hari mulai gelap, matahari senja pun kini lenyap diatas gunung sana. Aku khawatir, Adik-adik ku terus menangis inginkan ia pulang secepatnya, hingga aku pun mencoba menidurkan mereka.
Pagi buta pun ibuku tidak kunjung pulang, ayampun terus berkokok menggambarkan pagi telah tiba kembali. Aku tidak tertidur, aku ingin melihat ibuku pulang. Namun, seling beberapa saat pintu rumahku terketuk seseorang.
" Ibu...! ". Ucapku dalam hati.
Aku terus hampiri gaun pintu itu, mendekati sumber suara ketukan itu, ku coba tarik dan ku buka perlahan. Aku lihat Taha tertunduk tidak melihatku.
" Taha, kamu kenapa ? ". Tanyaku memulai.
" Maafkan aku, Zid..".
" Ibumu meninggal kemarin saat ia memberikan upeti ke benteng Jepang. Kabar mengatakan bahwa ia menentang dan tentara jepang pun menembaknya ". Ucapnya menerangkan.
Aku tersentak sekali mendengar kabar bahwa ibuku telah tiada, tiada yang bisa ku lakukan selain menangis. Kini aku kembali merasakan kehilangan orang yang paling aku sayangi di dunia ini setelah ayahku pergi, kini ibuku kembali mereka bunuh tanpa bersalah.
Saat itulah aku murka dengan tentara Jepang. Aku ingin sekali berontak, tetapi apalah aku. Namun, kelak suatu saat, setelah aku dewasa nanti aku akan membalas apa yang telah penjajah-penjajah itu lakukan terhadap keluargaku.
***
Tetes demi tetes kian membasahi kedua belah pipi seorang mantan pejuang kemerdekaan itu, tanpa isak seakan ia terus menegarkan hatinya dalam bercerita. Ia menagis, tetapi kadang ia tersenyum terbawa semangat para peneliti sejarah itu.
" Setelah ibu Bapak meninggal, apa yang bisa bapak lakukan terhadap keluarga bapak saat itu ? ". Tanya salah seorang peneliti itu memulai kembali.
Kini ladang aku garap sendiri, tanpa semuanya dari ibuku, tanpa makanan yang ia siapkan saat aku istirahat ketika datang waktu dzuhur, tanpa senyumnya. Aku mulai merasa lelah sekali, mungkin tanpa adik-adik ku yang masih kecil, aku akan membalas perlakuan centeng penjilat itu sekarang juga, tidak peduli lagi apa yang harus ku rasakan, adik-adik ku bahagia kini hanya itu yang aku inginkan.
Siang itu pun aku tetap di ladang bekerja, untuk menghibur hatiku, aku terus sibukkan dengan semua ladang ini. Kedua adikku turut di rumah berdiam, keduanya perempuan, sengaja aku diamkan di rumah untuk memulai belajar berbenah agar mereka menjadi perempuan -perempuan yang pandai kelak bagi kebahagiaan suami mereka.
" Yazid ! ". Suara itu ku kenal ketika seseorang memanggilku di ladang, aku kenal siapa seseorang itu. Itu Okuya, aku pura-pura tidak mendengar sapa itu, aku masih merasakan kesal terhadap semua bala tentara juga keluarga Jepang itu, hingga aku tidak menyahut panggilan untuk kebeberapa kalinya.
Ia terus mendekat, hingga ia menemukan ku, ia hanya tersenyum bahagia sekali ketika terus mendekatiku. Aku pun melihat ke arahnya, berkali ia tersenyum ku mengajak namun aku membalasnya dengan sapuan keringat yang ada di keningku.
" Yazid, kamu pasti lelah sekali, ini aku bawakan susu dan madu untuk mu ? ". Jelasnya mulai bercerita.
Kami pun berdamping, namun tiada kata yang aku keluarkan untuk menanggapinya. Aku melihatnya seperti aku terasa menyakiti ibu ku. Namun, ia terus bercerita tentang nya, tanpa ia henti dan aku pun merasa bising dengan semua yang diucapnya.
" Anya, apakah kau mendengar nyanyian-nyanyian alam ini ? ". Tanyaku memotong ceritanya.
" Aku tidak mendengar apa-apa, Zid ". Ucapnya polos.
" Tentu kamu tidak akan mendengarnya, karena bibirmu tiada henti bisingkan telinga mu ! ". Bentak ku terbawa marah.
" Ayah mu telah membunuh ayah ku dahulu, dan kini ayah mu telah kembali membunuh ibuku kemarin, tidakkah kamu merasakan perasaan ku ? ".
" Kau kejam, Anya ! ".
" Rakyat mu sangat biadab ! ". Jelasku mengelurakan semua isi hatiku.
Matanya berkaca-kaca serentak setelah apa yang aku ucapkan itu untuk nya, mungkin aku telah menyakitinya, hingga ia tidak berkata sedikit pun, ia hanya tundukkan kepalanya dengan memegang sebuah kendi yang berisi susu dan madu itu untuk ku.
" Mungkin kau benar, Zid. Martabatku tidak akan pernah bisa benar di mata rakyat yang aku sakiti ".
" Maafkan aku. Namun, satu hal yang harus kamu tahu, Zid. Aku mencintaimu, akan aku relakan apapun untuk bisa bersamamu ". Jelasnya mengungkapkan.
Okuya pun meninggalkan ku saat itu juga, mungkin ia kecewa sakali dengan apa yang telah aku katakan tadi, hati kecilku sangat menyesal lakukan itu. Tidak lama aku pun turut bergegas pula meninggalkan pekerjaan ku di ladang. Aku kembali ke rumah, namun didepan rumah ku lihat berantakan sekali, pintu depan terbuka dan sepi tidak berpenghuni. Kedua adikku Isah dan Asih beberapa waktu lalu tetara Jepang telah membawa mereka. Seseorang mengatakan seperti itu kepadaku saat ku bertanya.
" Iya, kedua adikmu direkrut oleh tentara Jepang sebagai Gyugun dengan suka rela untuk persiapan menghadapi anggota Keibodan talapeta dan Kyodo buedan nanti ". Ucapnya sembari menegarkanku.
Hatiku hancur bukan kepalang ketika mendengar semua itu, aku tidak bisa kendalikan lagi amarahku. Keberanian ku pun muncul mengatur siasat tentang bagaimana aku bisa mendapatkan kembali kedua adikku.
Bermula dari aku mencari tentara jepang yang sedang berkisar-kisar di daerahku, meski sengaja, agar aku dapat terekrut pula kedalam benteng Kekaisaran Jepang itu. setela berhasil, akupun dibawa menuju tempat tentara Jepang itu menyimpan Gyugun-gyugun dari rakyat pribumi. Semuanya tiada belas, mereka memperlakukan ku seperti hewan gembala, kadang aku menangis dengan apa yang telah tekad ku perbuat itu. Namun, demi menemui kedua adik perempuanku, aku rela lakukan apa saja untuk membawanya pulang kembali.
Seminggu pun aku sudah dalam kurungan itu, namun tiada terlihat hidung kedua adikku sedikitpun. Aku coba tanyakan, mereka pun sama dan tiada Gyugun wanita dalam kurungan ini.
" Mungkin tentara Jepang memisahkan para budak lelaki dan perempuan ". Tegarku menyemangati hati.
Tubuh ku kian terasa lemah sekali. Aku lapar, namun tiada makanan disini, mereka hanya memberiku makanan dua hari sekali dan lebih banyak waktu bekerja dari waktu istirahat. Kulihat kearah sebelahku, tidak tega aku melihat seorang kakek yang seperti mayat hidup, seperti tengkorak yang pipinya berbuah akibat terkena penyakit biri-biri, mungkin karena kehidupan yang tidak teratur dan kotor, hingga semuanya terlihat seperti neraka dalam dunia.
Pagi pun menjemput, mataku masih gelap sekali untuk ku buka, tentara Jepang telah membangunkan kami semua yang tengah lelap dalam tidur, kami berbaris. Satu per satu sekop dan palu besar pun dibagi, akupun bekerja menggali dan menggali sebagian tanah yang berbukit, semakin siang semakin panas punggung ini terbakar matahari, aku berhenti sejenak. Ku melirik kearah kiri dan kanan ku. Namun, lecutan terasa pedih saat beberapa tentara melihatku lakukan itu.
" Ayo !!, terus gali..! ". Beberapa tentara Jepang terdengar katakan itu.
Kini tubuh ku menyerupai kakek yang dulu ku ibakan itu, yang mulai mengering karena penyakit biri-biri menyerangku, tidak kuasa aku seperti tengkorak hidup yang mengabdi untuk keserakahan kekaisaran Jepang. Seminggu kemudian lagi pun aku merasa baikan karena aku seringkan beralasan untuk tidur disela kejamnya pekerjaan itu.
Suatu hari aku sengaja beralasan untuk mengambil sebuah batu besar disebuah tanah yang terlihat curam, sengaja aku disana untuk beristirahat dan bisa melihat-lihat ke arah samping benteng tentara Jepang, kerena tebing curam itu berada percis diatas benteng tersebut. Dalam sela itu, tidak sengaja aku melihat tiga orang wanita yang tengah bermain, aku mengenalnya.
" Iya, itu Okuya..
" Namun siapa kedua wanita kecil yang ada disampingnya itu ?". Gumanku dalam hati.
Setelah ku perhatikan dengan penuh rasa ingin tahu, mereka pun keluar dan ternyata kedua wanita kecil itu adalah adik ku. Isah dan Asih merka tenyata diangkat sebagai pengasuh untuk teman Okuya. Kedua adikku terlihat sangat cantik dan rapi, seperti mereka hidup bahagia berada di benteng neraka ini. Namun, mereka tetap adikku, tanah mereka adalah Tanah Koro, tanah yang nenek moyang kami pertahankan hingga sekarang ini.
" Anya.!! ". Teriak ku memanggil.
" Kembalikan kedua adikku ! ". Teriakku menambahkan.
Kedua adikku turut tidak beringas melihat ku iba, seperti mereka terhendap melihatku dalam keadaan seperti itu. Asih dan Isah hanya bisa lakukan itu disaat beberapa lecut tentara Jepang mulai menyentuh punggungku kembali setelah mereka mengetehui keberedaanku disana.
" Hentikan ! ". Bentak Okuya kepada tentara ayahnya.
Okuya pun mendekatiku, ia menetap kedua mataku dengan iba pula. Kedua adikku pun turut mendekat, mereka menangis karena terlebih mengenalku meski dalam keadaan seperti itu. Mereka merangkulku dan memelukku.
" Isah..Asih.., kalian akan pulangkan bersama kakak ? ". Tanyaku disela sedu.
" Anya, berikan kami celah agar bisa terlepas dari tempat ini ? ". pintaku memohon.
" Iya, kak Okuya. Kasihani keluarga kami ". Ucap kedua adikku menambahkan dengan serentak.
Kejadian mengesankan itu terjadi sangat cepat sekali. Okuya, Asih juga Isah sepertinya mereka tidak menyangka akan aku seperti itu, namun selang beberapa saat tentara kembali menggiring dengan melepaskan paksa dekapan kedua adikku di dadaku.
Malam pun kembali tiba, tanpa sehelai kainpun aku tertatak dalam penjara tanpa pembebasan itu. Udara dingin kian menyengat jiwa, yang terus mengingtkan ku kepada kedua adikku, ibuku juga ayahku. Teringat semasa hidupnya, senyumnya, semuanya. Aku rindu akan keluargaku.
***
" Mayor Yoshimura ". Ucap Okuya yang menyentakkan Mayor ketika tengah bertugas
" Tidakkah engkau lelah dengan apa yang hanya bisa kau lakukan diatas kursi kerja mu itu ? ". Tanya nya memulai.
" Tuan Puteri, Ini sudah larut malam, sebaiknya tuan puteri beristirahat dan meningalkan gudang tawanan ini ". Jelas Mayor Yoshimura singkat.
" Hidupku sepi, tiada lelaki yang menjamak hatiku. Mayor, Sudikah kiranya aku perintahkan engkau untuk temani aku dan kita bermalam di sini ? ". Pinta Okuya menerangkan maksudnya.
Tiada kata lain bagi Mayor Yoshimura untuk ucapkan sesuatu selain mengikuti keinginan Okuya saat itu. Okuya pun berdamping bersama bercerita dengannya, hingga tiada lagi suara, malam pun hampir habis, namun maksud yang sebenarnya Okuya disanalah bukanlah hanya sekedar berbincang. Akan tetapi, Okuya hanya ingin menunggu Mayor Yoshitoshi beristirahat hingga ia bisa berkesempatan untuk membebaskan para tawanan, khususnya Yazid. Namun, selama itu tiada kesempatan untuk Okuya lakukan maksudnya.
" Tuan puteri, sekarang tepat pukul 02.30 pagi, sebaiknya tuan puteri lekas meninggalkan tempat ini sebelum Tuan mengetahui keberadaan tuan puteri ". Ucap Mayor memotong.
" Baiklah, aku akan pergi dengan syarat antarkan aku kedepan pintu rumahku ". Pinta Okuya
" Baiklah, aku antarkan tuan puteri ". Sanggup mayor.
Disela mereka bergegas, Okuya tidak pergi ke kamarnya, setelah diantarkan pulang, Okuya lekas menuju kamar Ayahnya. Ia beralasan bahwa Mayor Yoshimura tiada ditempat, hingga Mayor di panggil saat itu juga dengan memerintahkan pengawalnya yang tengah sedia didepan pintu kamarnya. Dengan seperti itu Okiyo bisa dengan bebas melakukan maksudnya dengan tiada Mayor di gudang itu.
" Yazid, bangun !". Ucap Okuya membangunkan
" Yazid, Mayor kini tengah berada di rumahku, sekarang ikuti aku, sebelum semua tawanan dan para tentara ayahku kembali bangun ". Pintanya setelah membukakan pintu yang ia ambil kuncinya dari meja Mayor.
Akupun mengikutinya perlahan, meski dalam setengah bangun aku tetap langkahkan kakiku menuju perbatasan benteng saat itu.
" Anya, terima kasih untuk semuanya, tetapi aku tidak akan lupa untuk aku tidak akan pergi dari sini tanpa kedua adikku ". Ucapku ketika berada di ujung benteng kekaisaran Jepang itu.
" Aku juga tidak akan lupa, Zid. Malam berikutnya kamu tunggu kembali aku di sini, saat itu aku akan membawa kedua adikmu itu ". Jelas Okuya.
" Satu hal lagi yang harus tidak kau lupakan, Zid. Aku mencintaimu, apapun akan aku lakukan untuk bisa bersamamu ". Ucap nya sembari kami melangkah berpisah.
Aku berlari sekuat-kuatnya, tidak peduli apa yang aku pikirkan saat itu. Aku percaya Okuya, ia pasti bersama kedua adikku saat aku bertemunya kembali.
Pagi pun tiba dengan bersihnya, tanpa tendangan dan pembagian sekop serta palu besar dipagi hari. Saat itu juga aku hanya bisa tertidur seharian menunggu malam kembali. Aku rindu kedua adikku, kadang aku menangis, tidak bicara meski setitik, aku ingin menjaga mereka seperti ibu dan ayahku dulu ketika masih ada. Aku takut pada mereka. Namun, terkadang aku memikirkan Okuya, harus ku akui, aku mencintainya, tidak peduli apapun masalahnya, masalahku, aku rasakan selalu bersamanya. Mungkin semua orang akan mengasingkanku jika mereka tahu. Okuya tidak seperti itu, aku yakin ia berhati seperti rakyat pribumi pada umumnya.
Hari pun habis saat itu juga, aku masih menunggu malam tiba, tidak tahan aku ingin kembali bersama kedua adikku. Hingga matahari meredup, awan-awan kuning emas pun mulai bergerak cepat menghilang dari langit. Akupun bergegas menunggu di benteng Jepang saat matahari benar gelap. Aku terus menunggu karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat itu.
---
" Tuan Puteri, hendak kemana bersama kedua anak ini berjalan malam ? ". Tanya Mayor Yoshimura tiba-tiba.
" Mayor, sedang apa kau disini ? ". Tanya balik Okuya terkaget.
" Aku sedang berjaga dan mencari tawanan yang kebetulan tuan puteri bebaskan kemarin malam ". Jelas Mayor singkat.
Sepertinya Mayor telah mengetahui apa yang telah diperbuat Okuya semalam kemarin. Hatinya terus bergetar tiada daya untuk mengalihkan kesembunyiannya itu, ia tidak bisa apa. Isah dan Asih pun terlihat ketakutan sekali, serentak terdiam dengan keadaan seperti itu. Mayor tidak katakan satu patah kata pun, karena ia juga takut jika semua itu terjadi dan Kaisar Tsukioka Yoshitoshi mengetahui ia akan mendapat sangsi pula. Mayor pun hanya memukul dengan beberapa kata sehingga Okuya semakin berkerut dalam menjalankan apa yang diinginkannya.
Gelap pun mulai menggulita, cahaya-cahaya mega pun mulai berubah saat menjelang petang, beberapa suara malam mulai berdesing di sebelah semak sana, namun aku terus menunggu apa yang aku tunggu. Sengaja aku lebih awal menunggunya di belakang tebing benteng ini, berharap semua ini akan seperti yang aku harapkan. Kedua adikku adalah satu-satu nya yang aku punya dari keluargaku, dan aku percaya Okuya, ia pasti kembali dengan kedua adikku.
" Yazid.. ". Ku dengar suara itu memenggil perlahan mencariku. Aku pun bangunkan diri menghampirinya.
" Anya..". Ia benar-benar datang bersama kedua adik perempuanku. mereka hanya tersenyum dengan dekapan peluk juga setelahnya.
" Ayo kita pulang ".Ucapku dalam peluk mereka.
" Terimakasih Anya, Aku percaya padamu suatu saat....".
" Yazid..". Potong Okuya
" Aku ikut denganmu, bawalah aku ke tanahmu ". Pinta Okuya
" Anya jangan..."
" Sst.." Potong Okuya menghampiriku.
" Aku mencintaimu Zid, seperti apapun itu, jangan buat semua ini menjadi rumit. Aku ingin hidup denganmu, seperti apapun itu aku akan menikmatinya. Dengan kamu Zid, Aku ingin bisa rasakan semua itu ".
jelas Okuya.
" Anya, jangan..ini tidak benar..".
" Yazid, aku tahu itu, aku ingin hidup denganmu ".
Tiada kata pun setelah itu, ia menangis, aku juga menangis, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku pun menghampirinya, aku memeluknya, ku dekap erat apa yang dimilikinya. Cintannya aku pun merasakannya. Aku juga mencintainya, aku juga ingin dengannya. Aku rangkakan kedua bibirku ke arah telingannya, aku pun dengan lembut bisikan..
" Anya..Ayo kita pulang "
---
" Sial ". Bentak Mayor Yoshimura dengan dasar bahasa jepangnya terhadap pasukan di belakangnya.
Mereka tertinggal saat mereka hendak bergegas menangkap kembali tawanan yang kabur itu, karena Mayor mengetahui Okuya bersama kedua anak kecil itu hendak menemui tawanan yang kemarin ia bebaskan.
***
" Terimakasih Zid. Aku senang sekali bisa bersamamu ?" Tanyanya memulai ketika kami dalam perjalanan pulang.
" Iy Anya "
" Anya, aku juga sama belum melihat rumahku lagi semenjak aku pergi dan berada dalam penjara beberapa waktu lalu, aku tidak tahu keadaannya, jadi sekarang kita bermalam di hutan dulu, kita akan berjalan berputar menjauhi jalan besar, saat fajar terbit, kita baru bergegas pulang " Jelasku.
" Maafkan aku Anya, aku takut jika warga di desaku melihatmu bersamaku, mereka akan menyakitimu, aku ingin bersamamu, tapi tanpaku menyakitimu ". Jelasku menambahkan.
" Aku ikut dengan mu Zid, Aku percaya padamu ". Ujarnya.
Saat itu tanggung jawab ku bertambah, kedua adikku, Okuya, mereka dalam hidupku saat itu. Aku tidak pejamkan mata, aku hanya bisa melihat kedua adikku yang tertidur, mungkin ia kelelahan tadi, karena kami berjalan cukup jauh meski belum sampai rumah kami. Adikku terlihat lugu sekali, aku menyayangi mereka, kini akulah satu-satunya yang mereka punya di dunia ini. Begitupun Okuya, kini ia dalam tanggung jawabku, ia akan menjadi keluargaku.
Saat pagi cuaca sangat berbenih, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan kami sebelum cuaca kembali mencerah, hujan pun turun dengan rinciknya, suasana pun mendingin. Akupun menghampiri kedua adikku yang tengah terduduk dengan manisnya, ku kembali memeluk mereka, mungkin dengan ini aku akan mengurangi rasa dingin mereka.
---
" Terus apakah Mayor Yoshimura itu berdiam saja setelah ia mengetahui Okuya pergi bersama Bapak? ". Potong salah seorang peneliti sejarah itu tiba-tiba.
Saat pagi itu juga Mayor Yoshimura menggerakan sebagian pasukannya setelah kaisar Tsukioka Yoshitoshi mengetahui Okuya pergi bersamaku. Ternyata dengan kuda dan kereta sadonya mereka terlebih mendahului kami yang tengah beristirahat saat itu untuk melanjutkan perjalanan menuju tanah Koro, sesampainya di rumah mereka tidak menemukan keberadaan kami, merekapun mengumpulkan semua warga untuk sebuah intruksi paksa.
" Jika salah seorang dari kalian berani menyembunyikan Yazid dan kedua adiknya itu, maka kami tidak segan untuk membunuh orang tersebut, ingat kataku itu, Yazid dan kedua adiknya membawa puteri kaisar Tsukioka Yoshitoshi. Jadi, dia telah berani menginjak-nginjak keagungan kekaisaran kami ". Tegas Mayor kepada warga.
" Bukankah kalian yang telah menginjak-nginjak harga diri rakyat kami ? ". Bentak salah seorang bapak yang merasa kesal dengan mereka.
Selang beberapa detik, Mata Mayor Yoshimura pun memejam merah perlahan, ia mengerutkan kening dan merepatkan kedua alisnya.
" Desstt "
Cetusan peluru pun menembus dada bapak itu dengan cepatnya, Semuanya terkaget, darahpun mengalir dibawah punggung bapak tersebut yang terlentang, Semua mata tertuju pada darah yang membasahi tanah dibawahnya.
" Ingat.. !! ".
" Kami tidak akan segan melakukan hal ini lagi jika kalian tidak mendengarkan ! ". Jelas Mayor menambahkan.
Mayor dan pasukanya pun kembali ke bentengnya tanpa pamrih, mereka pulang dengan tangan hampa karena tidak menemukan yang mereka cari. Sementara itu, beberapa kerabat dari bapak yang terembak itu hanya bisa isak menangis dengan melihat mereka meninggalkan dengan hati yang mengiba.
" Yazid... !! ". Bentak hati Taha terhadap kejadian ini.
---
Okuya pun perlahan melangkah, ia menghampiri kami yang dalam kehangatan peluk. Ia pun ikut merangkul, saat itulah aku merasakan yang sebenarnya terjadi, mulai saat ini Okuya adalah keluarga kami, ia benar-benar keluarga ku saat itu, meski terkadang aku selalu teringat almarhum ibuku ketika bersamanya, namun kini ia dalam tanggung jawabku sekarang. Meski ibuku menangis, ku yakin meski ia berada jauh disana ia pasti kan merasa bangga bahwa aku selalu berada dalam kebenaran meski dengannya.
" Yazid, sepertinya cuaca kini sudah mencerah, mari kita lanjutkan lagi perjalanan kita ". Ucap Okuya bersemangat.
Kamipun kembali bergegas melangkah, tiba di sebuah dusun yang berpenduduk tiga kepala keluarga itu kami berhenti sejenak, aku menghampiri rumah sahabatku yang rumahnya terletak di tengah kedua rumah yang lain. Disini adalah suatu tempat teraman dari kekaisaran jepang di seluruh negeri ini. karena dusun ini terletak dalam himpitan dua buah gunung yang di tebingnya terdapat air terjun yang menghalangi mata meski terliahat dari arah depan dusun, karena itulah penghuni dusun ini menyebutnya Dusun Roro Terjun, Karena dusun ini terletak di hampitan dua gunung (roro) dan terdapat air terjun yang membias.
Tempat ini juga adalah tempat beristirahat ku bersama Taha satu-satunya sahabatku ketika lelah setelah mengembala, namun kini kami tidak pernah ke dusun itu lagi setelah kambing kami di rampas tentara Jepang dulu. Satu yang ku ingat Laras adalah sahabat kami yang tinggal di sini, ia seumuran dengan kami, ia juga perempuan yang baik. Ia selalu menemani kami saat mengembala setelah ia membantu ibunya di rumah. Hanya itu yang ku ingat setelah bebeapa lama tidak pernah berjumpa lagi. Karena itulah aku singgah disini untuk kedua adikku dan Okuya.
" Laras..". Ucapku setelah mengetuk pintu rumahnya.
" Yazid..". Sahutnya ketika membukakan pintu.
" Aku butuh bantuanmu Ras, aku bersama Isah dan Asih juga Okuya, aku ingin melihat rumahku namun aku tidak bisa pergi dengan mereka. Jadi, aku berpesan kepadamu untuk menitipkan mereka disini sebelum aku kembali ". Jelasku meminta.
" Tentu Zid, jangan sungkan jika butuh bantuanku, selama aku mampu kita akan saling membantu, tapi mengapa kamu bersama anak perempuan yang satu itu ?". Jelasnya.
" Terimakasih, Ras ".
" Maaf, nanti kedua adikku saja yang menjelaskan, sekarang aku haus pergi ".
" Okuya, kalian disini dulu bersama Laras, aku pergi dulu " Pintaku.
Akupun pergi tanpa pedulikan kesanggupan mereka. hanya itu yang terbaik untuk mereka juga. Tidak berapa lama pun aku tiba di tanah ku, di sudut desa terlihat sepi, namun aku tidak bertanya, aku hanya ingin menemui rumah ku dan memastikannya, hingga di depan rumahku, semuanya tampak nyata, semuanya masih utuh dengan ketidak rapihannya.
" Sudah aku bilang Zid, jangan pernah dekatkan dirimu dengan anak centeng itu. Jika sudah seperti ini, kamu juga yang akan merasakan ".
" Lihat dirimu, olehmu sendiri kini semua warga mencarimu, karena ulahmu ada lagi nyawa yang melayang sia-sia ". Jelas Taha yang tiba-tiba masuk kerumahku dengan nada marah.
" Kini kau mau apa, sebagai sahabatmu aku sudah menunjuki mu dulu, ini tanah kita Zid, jangan buat mereka lebih bahagia tinggal di negeri ini dengan keterpurukan kita ". Bentaknya yang terus memojokanku.
Aku terdiam, aku memang salah. Saat itu juga aku putuskan untuk tidak mengajak kedua adikku dan Okuya kembali ke sini. Aku akan tinggal di dusun Roro Terjun.
" Taha, terimakasih untuk selama ini, aku tahu kamu tengah marah, tapi aku akan selalu benar, aku tidak akan pernah menjadi kaki tangan tentara jepang, aku tidak seperti mereka. Aku hanya mencintai Okuya, dan aku ingin bersamanya ". Jelasku sembari meninggalkannya.
Akupun kembali berjalan menuju Dusun Roro Terjun, Taha sahabatku hanya bisa melihatiku penuh perasaan benci saat ku langkahkan kaki meninggalkannya, aku tahu Taha bukanlah benci padaku, namun ia ingin aku baik-baik saja, sebenarnya itulah yang ia harapkan.
---
" Bodoh..! "
" Cepat cari lagi mereka sampai ketemu " Bentak Kaisar Tsukioka Yoshitoshi kepada Jendral dan pasukanya ketika kembali ke benteng mereka dengan tangan kosong.
" Dan bawa puteri ku dan anak itu dengan utuh ". Jelasnya menambahkan.
Dengan kepatuhan Mayor Yoshimura terhadap kaisarnya, ia pun kembali ke tanah Koro untuk mencari kami saat itu juga, namun kembali ia tidak menemukan ku karena sedikit berselang waktu. Karena ketika aku bergegas kembali ke Dusun Roro Terjun saat itu juga Mayor dan pasukannya datang ke Tanah Koro.
" Aku tahu kalian pasti tahu dimana keberadaan Yazid dengan kedua adiknya itu !". Tegas Jendral ketika mengumpulkan kembali warga.
Namun, tiada yang berani menjawab, karena mereka benar-benar tidak mengetahui keberadaanku saat itu selain Taha. Taha yang saat itu ikut terkumpul juga ia sangat bergetar hati, karena hanya ia yang melihatku ketika pergi meninggalkannya ke arah Dusun Roro Terjun itu, dan hanya aku dan Taha lah yang tahu dimana letak persembunyian yang teraman di negeri ini.
" Ayo cepat katakan, dimana Yazid bersama kedua adiknya itu ?!". Tegasnya untuk kedua kalinya.
Mayor pun merasa jengkel, ia kembali menghunuskan senjatanya ke arah warga yang terduduk, dengan acak, tangannya ia hunuskan kepada beberapa anak yang kebetulan berada disitu.
" Jika kalian masih tetap dengan diam kalian, dengan tidak segan aku akan menembak kepala anak ini !". Jelasnya mengancam.
Semuanya membingung dan takut, karena mereka benar-benar tiada tahu dimana keberadaan diriku saat itu.
" Satu.. ". Gentak Mayor memberi waktu
Taha semakin berdebar dengan cara itu, ia tidak mengerti harus bagaimana, ia pilih aku yang satu-satunya sahabatnya atau anak itu karena ia adalah rakyatnya.
" Dua..".
Semuanya terdiam, hanya kedua orang tua itu yang tidak berhenti berteriak memohon ampun, hingga mereka berlutut untuk membebaskan anak mereka. Melihat kejadian itu, Taha semakin tidak mengerti, apakah ia harus menjawabnya, disela ia berfikir tiba-tiba terdengar dengan kerasnya..
" Tiga ! "
" Hentikan ". Potong Taha.
" Aku tahu dimana keberadaan Yazid juga kedua adiknya ". Sambung Taha demi anak itu.
Sekejap Mayor Yoshimura pun menurunkan senjatanya dan melihat lurus ke arah Taha. Ia melempar anak itu dan menghampiri Taha, dengan kembali hunusan senjatanya ia katakan.
" Dimana mereka !"
" Jika kau berbohong, kaulah pengganti anak kecil tadi ". Kecam Mayor ketelinga Taha.
" Mereka di Dusun Roro Terjun ". Ucap Taha.
Tidak lama pun warga bubar kembali, namun para tentara Mayor menguyun Taha untuk menunjukan letak Dusun tersebut. Kini Taha bersama Jendral dan pasukannya menuju Dusun Roro Terjun.
---
" Laras ". Ucapku sembari membuka pintu.
Terlihat raut Laras yang menebal aku menjadi bertanya-tanya saat pertama kali aku melihat mereka ketika berkumpul ditengah kamar. Setelah aku mengerti, ternyata tadi Okuya dan kedua adikku tengah bercakap tentang aku dan Okuya, namun yang tidak aku mengerti mengapa Laras seperti itu.
" Anya, Isah, Asih, sebaiknya kita tinggal disini terlebih dahulu, aku minta maaf, rumah kita tiada, jadi untuk sementara kita tinggal disini sebelum aku membuat rumah yang baru kelak berdiri ". Ucapku mengumumkan.
" Bolehkan, Laras ? " Tanyaku
" Tentu, Kedua orang tuaku juga pasti senang kedatangan tamu yang baru ". Ucap Laras memenuhi dengan sedikit tekanan.
Pintu pun terketuk seseorang, kami berhenti sejenak, sapa pun kami lantunkan menjawab salamnya.
" Taha.." Kaget Laras ketika membukakan pintu.
" Yazid, semuanya maafkan aku ". Ucap Taha dengan nada ketakutan.
" Ada apa, Taha.." Tanyaku.
" Yazid Yasmin, Akhirnya aku menemukanmu juga ". Ucap Mayor Yoshimura dari luar.
Sekejap para prajurit Mayor mengepung rumah Laras, mereka melingkari bagian rumah dari luar. Sungguh hati ku merasa takut saat itu, aku takut mereka tersiksa karena aku berada disini. Kedua adikku dan Okuya, Laras juga keluarganya juga kini berkumpul di tengah dusun rumah, tiada celah bagi kami untuk melarikan diri. Beberapa pasukan pun masuk meringkuk kami dan menyeret kearah luar. Dengan di kelilingi para pasukan Mayor, kamipun di hadapkannya, kami tidak berdaya saat itu. Taha hanya memendangiku dengan rasa takut, ia seperti merasa bersalah atas apa yang telah ia dikorbankannya.
" Tenang lah Taha, aku tidak menyalahkanmu, aku percaya, sesuatu yang telah kau korbankan itulah yang terbaik, segala sesuatu pasti akan menemui sebuah pilihan dan pilihan itulah yang harus kita tapaki, meski seperti ini, aku bangga padamu Taha, kau telah memilih dan akulah pilihanmu ". Jelasku ketika Taha juga ikut dihadapkan Mayor.
Kamipun berkumpul dengan setengah berdiri, dengan kepala tertunduk kami hanya bisa mendengakan Mayor yang tengah memaki kami, kedua adikku menangis, mereka ketakutan, namun apalah artiku saat itu, aku yang terlebih mereka tekan kan.
" Ini tanah kami, kamilah yang lebih hak mengurus dan menghuninya, semoga engkau mendapatkan laknat Allah secepatnya, Mayor !! ". Terdengar Taha memotong kata Mayor yang tengah memaki.
Tidak banyak detik berlalu, Mayorpun terdiam seketika. Ia terlihat tenang sekali menanggapi kata itu, iapun berdiri.
" Dzzt..".
Aku memburunya dengan kedua tanganku, namun Taha tergeletak seketika, ia berlumur.
" Taha bangun...Taha.."
" Bangun.. "..
Ia ingin katakan sesuatu, nanun ia tidak bisa, ia menangis karena itu. Ia pun tersenyum untukkku yang terakhir.
Akupun benar-benar kembali menangis saat itu, semua orang yang aku punya kini telah tiada, yang aku cintai ternyata salah, yang aku miliki kini tak bisa apa-apa, berkali aku meliahat kearah kedua adikku, kulihat mereka semakin ketakutan dengan kejadian itu.
" Dzzt..Dzzzt..".
Kedua adikku pun terjatuh seketika setelah Taha. Isah dan Asih serentak mereka tidak bergerak sedikit pun setelah terjatuh dengan peluru yang tertanam di dada mereka, akupun kembali menghampiri kedua adikku itu.
" Isah..Asih..".
" Bangun..jangan tinggalin kakak..".
Aku sangat lemah waktu itu terjadi, semuanya seperti cerita dalam mimpi, Aku hanya bisa tersedu menangis bukan kepalang, Okuya, Laras dan keluarganya hanya bisa melihatiku merangkul mereka yang tengah tergeletak satu per satu. Ku usap pipi adikku itu yang masih hangat, mereka cantik sekali, hingga aku memeluk mereka. Sampai akupun berhenti menangisi mereka. Aku tersadar, tiada guna aku lakukan itu. Akupun berdiri, Kulihat kearah Mayor dan beberapa pasukannya.
" Cukup, jangan lagi.."
" Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah aku ".
" Jangan buat lagi kesalahan ini diatas kesalahanku ". Jelasku sembari menguatkan diri.
Mayorpun kembali menghunuskan senjatanya ke arahku, ia tidak banyak berkata, seakan ia sangat kesal atas apa yang telah aku lakukan sebelumnya, membawa Okuya pergi tanpa sepengetahuan mereka , itulah yang memberatkanku untuk aku tidak layak lagi hidup dimata mereka. Aku lihat kearah sekelilingku, Okuya, Laras juga keluarganya, mereka hanya bisa melihatiku dengan harapan Mayor tidak akan membunuhku.
" Yazid, cukup sampai disini cerita hidupmu, kau cukup merepotkan kekaisaran kami, yang kau punya kini telah meninggalkanmu, yang kau harapkan kini telah menghianatimu, bagimu tiada sesal meski aku membunuhmu disini ". Jelas Mayor menundukan semangatku.
" Jangan Mayor..". Ucap Okuya tiba-tiba.
Serentak Mayorpun kembali menurunkan hunusanya, ia tersenyum, seakan banyak rencana untuk membuatku lebih menderita.
" Hahaha... Tentu saja tuan puteri, aku tidak bodoh, tidak akan ia aku buat mati semudah itu ". Jelasnya berencana.
Akupun kembali diseret oleh pasukanya meninggalkan Dusun Roro Terjun, saat itu aku tidak banyak berfikir, semua yang ku cinta dan ku harapkan kini dengan singkat dan tiada belas mereka hapus menjadi sebuah kenangan, Taha, Isah dan Asih, aku bisa melihat mereka tergeletak tidak bergerak lagi, Laras dan keluarganya hanya bisa melihatku iba saat aku diseret pasukan Mayor.
Saat itulah semuanya berubah menjadi rumit dan sulit setiap harinya, banyak paham yang ku geluti dengan fikiran juga perasaan, sepertinya hilang sudah yang aku pernah mimpikan, ayah ku mempikan, ibu, Isah dan Asih juga Taha, kini mereka telah berbeda kehidupan denganku. Selalu aku fikirkan, semua ini adalah salahku, berawal dari berjumpa dengan Okuya, mencintainya, bersamanya, itu adalah hal yang tersukar yang pernah ku alami setelahnya. Hingga aku kembali menjadi Gyugun tentara kekaisaran Jepang, dengan palu dan sekop besar, aku mulai kembali melakukan apa yang pernah aku ibakan dulu di neraka itu.
Mayor Yoshimura tidak pernah lengah meminta para prajuritnya untuk lebih membuatku menderita, mungkin ia tidak akan pernah lupa dengan kejadian yang telah aku buat beberapa waktu lalu.
Seminggu sudah aku dalam ambing seperti itu. Kini kakek yang seperti mayat hidup itu tidak pernah aku lihat lagi, mungkin ia juga telah meninggal disini, dan mungkin aku juga akan segera menyusulnya sebentar lagi. Saat itu aku putus asa sekali, benar-benar tiada teman sapa, keluarga juga semisalnya, Okuya juga tidak pernah lagi melihatku, mungkin ia juga mendapatkan hukuman dari ayahnya. Bagiku tiada harapan lagi saat itu. Dengan keadaan yang sesulit ini aku semakin terpuruk.
---
Beberapa peneliti sejarah itu semakin mendepankan duduknya ketika bapak Yazid berdiam sejenak dalam ceritannya, semuanya mengoptimis untuk mendengarkan lagi, mereka berpangku tangan melihati, seakan mereka terhanyut dalam kisah yang diceritakannya.
" Terus pak, apakah pada saat itu semua warga tanah Koro hanya berdiam menunggu semuanya berubah ? ". Seorang peneliti itu bertanya lagi setelah ia mendapatkan tempat duduk dipaling depan.
" Untuk beberapa hari setelah aku diseret menjadi Gyugun kembali, mungkin mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Dusun Roro Terjun, ternyata ayah dari temanku Laras menyusun sebuah rencana untuk membebaskanku dan sekaligus membebaskan negeri ini dari penjajahan ". Jelas bapak Yazid memulai kembali ceritanya.
" Dengan cara apa pak ? ". Tanya peneliti itu ingin mendengarkan.
Mula -mula Laras dan ayahnya pergi ke Tanah Koro, mereka menemui ayah dari sahabatku Taha, karena dialah yang warga Tanah Koro tunjuk sebagai kepala penggerak dan pemusyawaratan. Dahulu meski kami dalam negeri penajahan, bukan berarti kami mati untuk bersatu, tetapi hanya berdiam dan menyayati kepenjajahan Jepang. mereka selalu mengatakan " Kekuatan kita tidak sebanding dengan kekuatan mereka ". Hal itulah yang membuat pemusyawarahan kami selalu sembunyi.
" Apa kalian tidak pernah menginginkan kita bebas dari penjajahan Jepang ini ? ". Bentak Pak Joro ketika pemusyawaratan itu berlangsug.
" Apa kita akan berdiam diri mengakui kekuasaan Jepang dan menunggu rakyat kita habis oleh keserakahanya ? ". Ia menambahkan.
Semuanya terdiam, mereka setuju, namun rasa takut mereka lebih besar hingga mereka hanya tundukan kepala untuk mengakui.
" Semua ini nyata, kelak akan tiba waktunya seseorang dari keluarga kita yang akan mereka bunuh jika menentangnya, entah itu anak kita, istri kita, ayah kita. Apa kita akan menunggu hingga semua itu terjadi ?. Lebih baik kita yang lakukan itu, lebih baik kita yang mati demi negeri kita ini ". Jelas Pak Joro yang terus menguatkan.
Semuanya mengangguk, tidak lama pun mereka membulatkan hati, dengan kepercayaan diri, mereka menyusun sebuah penyerangan pertama. Mereka menyebutnya serangan " Pagi Pasti Berakhir ". Mereka bersemboyan bahwa setelah gelap habis, mereka harus mempersiapkan diri untuk pagi datang, karena mereka yakin hari tidak selamanya pagi dan siang.
Kini semuanya sudah tersusun, terencana dan matang, beberapa hari lagi warga tanah Koro akan melakukan penyerangan, terlebih mereka menggabungkan beberapa wilayah terdekat menjadi satu dan serentak melaksanakannya, dengan seperti itu kekuatan akan semakin besar terasa. Langkah pertama para warga berhenti membayar pajak dengan serentak pula, karena mereka semua berpindah ke Dusun Roro Terjun untuk lebih mematangkan rencananya, karena disanalah tempat teraman meski Mayor Yoshimura telah mengetahui.
Hari penyerangan pun tiba dengan cepatnya, siap ataupun tidak inilah pagi yang akan bersejarah. Semuanya berlangsung tanpa sepengetahuan kekaisaran Jepang. Namun, semuanya begitu cepat, para warga pun sekejap mundur kembali dengan gempuran balik pasukan Jepang. Beberapa warga yang berhasil mencoba menerobos masuk benteng demi membebaskan sanak, teman dan keluarganya, mereka pun berhasil melakukannya. Termasuk aku saat itu, aku berlari sekuat tenaga membentuk barisan baru, setelah terbebas, namun semua terlebih mundur, aku pun berlari bersama warga yang selamat dalam penyelamatan diri. Kami kalah.
Kesokan harinya tentara Jepang membalas serangan kami kemarin, tanpa sepengetahuan kami, dengan leluasa mereka menyerang hingga menghancurkan semua daratan tanah Koro. Aku selamat saat itu, aku bersama yang lainnya berlari ke Dusun Roro Terjun, hanya setengah dari kami yang selamat.
Peperangan pun mulai terasa sekali saat itu. Darah, luka, semuanya tampak tersiksa. Pak Joro yang saat itu pemimpin baru, ia menggantikan Pak Jahid (ayahnya Taha) yang pagi ini ia selamat meski terluka parah. Ia menyusun rencana baru, rakyat yang tersisa mulai menyebar rencana, mereka pergi kebeberapa daerah untuk menyatakan bersatu. Beberapa hari kemudian, kami telah meluas, pasukan pun kini berjajar dan rela mati. Kami siap saat itu.
Aku adalah orang yang terdekat dengan pak Joro, karena Laras temanku, jadi aku tinggal bersama mereka.
" Kamu anak yang cerdas Zid..". Ucap pak Joro ketika aku memberikan sebuah siasat di suatu malam itu.
" Terimakasih, Pak. Keadaan lah yang memaksa kita untuk seperti ini ". Jelasku menambahkan.
Ia hanya tersenyum, ia mengakui inilah yang tidak pernah diinginkan rakyat kami setelah penjajahan Belanda angkatkan kaki. Kami semuanya sadar, hal ini tidaklah mudah untuk kami kembali seperti semula, butuh pengorbanan dan rasa sakit untuk bahagia kembali. Kami berdua berhenti bicara sejenak, seakan kami berkhayal jika semuanya sudah berakhir.
" Uhhukk ".
Tiba-tiba darahpun keluar dari hidung dan mulut pak Joro. Akupun memcoba membersihkannya, ternyata sudah lama ia sakit parah. Akupun membaringkan tubuh pak Joro di tempat tidurnya. Terlihat ia lelah sekali.
" Jangan beri tahu Laras, Nak ". Ucap pak Joro ketika ia mengetahui aku hendak meninggalkannya.
" Baik, Pak ". Ucapku menyetujui.
" Nak, Kelak kau akan menjadi peminpin yang hebat ". Jelasnya mengusap kepalaku.
Akupun meninggalkannya saat itu juga, ia harus beristirahat. Aku tegang saat itu, semua peminpin kami dalam keadaan sakit, " Apakah semua ini akan berhasil ?". Tanya-tanya ku dalam hati meragu. Aku takut tanpanya tiada peminpin lagi seperti ia, yang gagah dan tekun. Aku berfikir semalam itu, aku berharap yang terbaik lah yang kami dapatkan dari rencana besar ini.
Sepintas aku berfikir, jika seandainya kami berhasil masuk ke dalam benteng pertahanan kekaisaran Jepang, kami pasti akan membunuh semua prajurit dan penghuni benteng itu sebisa kami.
" Bagaimana dengan Okuya ? ". Tanyaku dalam hati merasa takut.
Meski keadaan kami seperti ini, aku percaya Okuya, ia tidaklah sama seperti mereka, tidak seperti ayahnya. Bagaimanapun aku mencintainya, ia juga mencintaiku. Saat penyerangan itu berlangsung, pasti akan terasa lelah bagiku, karena aku mencintai Okuya.
Aku tidak banyak berfikir kembai saat itu, aku hanya bisa berharap penyerangan kami berhasil dengan kemenangan bagi rakyat kami dan Okuya dalam keadaan selamat bersamaku.
"Aku akan hidup dengannya setelah penggempuran ini berlangsung ". Semangatku dalam hati.
Haripun kian membesit, cahaya-cahaya keemasan mulai terlihat di ufuk sana, meski remang aku langkahkan kaki menuju makam kedua adikku dan sahabatku yang terletak di ujung Dudun Roro Terjun ini. Waktu itu aku tidak sempat melihat mereka untuk yang terakhir kalinya, karena aku terlebih menjadi Gyugun kembali setelah penyeretan itu.
Aku berpamitan, semoga dalam penyerangan yang kedua ini kemenangan berada di tangan rakyat pribumi. Setelah itu juga, aku berangkat kembali menuju Tanah Koro, aku ingin menemui makam kedua orang tuaku, karena kabarnya ibuku dimakamkan disamping makam ayahku. Aku sangat ingin sekali bertemu dengannya, setelah mengantarkan upeti untuk centeng Jepang itu dahulu, aku belum pernah lagi melihatnya, yang kemudian para warga Tanah Koro lah yang menemukan jasad ibuku dan memakamkanya di samping makam ayahku.
" Ibu, maafkan Yazid jika selama ini Yazid belum sempat melaksanakan bakti untuk ibu, Yazid menyesal, bu. Tapi Yazid juga mencintai Okuya. Ibu, berkatilah keselamatan untuk Yazid dalam penyerangan besok ". Ucapku memanjatkan.
Geming langkahku menyisir bumi, tiada hirau yang aku fikirkan, semua yang kumiliki kini telah tiada. hanya kami terbebas itulah yang aku harapkan. Kini langkahku penuh semangat juang, aku ingin terbebas. Aku ingin hidup selayaknya seperti kebanyakan orang yang tersenyum diluar sana lakukan. Terlihat didepan dusun ramai sekali menghiasi, aku terus hampiri untuk mengetahui. ternyata mereka semua melihat seseorang yang sedang tertidur. Aku tidak mengerti.
" Mengapa para warga melihati rumah pak Joro ?" Tanyaku dalam hati.
Aku hampiri bapak yang aku lentangkan semalam itu, berkali aku tepuk ia tidak bergerak.
" Bapak, Pak bangun..! "
Semuanya melihatiku yang berada didalam rumah, seakan mereka bersedih hati melihatku lakukan itu.
" Bangun pak bagaimana rencana kita yang kita rancang semalam ?". Isakku saat mengetahui bahwa ia benar-benar telah meninggal.
Ia benar-benar telah meninggal dunia saat kami semua melihatnya dalam keadaan seperti itu. Kini ketua kami telah tiada, rencana-rencana yang terliris berguncang tanpa lekas. Semua warga bersedih, mereka hanya tundukan kepala seakan berputus asa dengan apa yang telah direncanakannya.
---
Pemakaman pun selesai, selang beberapa waktu para rakyat pribumi pun dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk penyerangan besok pagi. Mereka sangat optimis untuk dapat mengusir penjajah Jepang dari tanah Koro ini, karena kini jumlah pasukan bertambah banyak dengan bergabungnya setiap kalangan masyarakat dari berbagai penjuru. Namun, mereka pun kini tampak seperti warga Dusun Roro Terjun yang tengah berputus asa setelah mengetahui penggerak perjuangan mereka telah meninggal dunia.
" Jika kita dalam keadaan seperti ini, apakah kita bisa menang melawan penjajah Jepang itu ?. Aku masih mempunyai anak untuk aku besarkan, hanya akulah milik mereka satu-satunya ". Jelas Seorang bapak mulai mengeluh.
Keadaan pun mulai tidak terkendali saat itu, sebagian dari mereka yang mengatakan sangat menyayangi keluarganya kembali bergegas pulang ke kampung halamannya.
///
" Uhhukk ".
Tiba-tiba darahpun keluar dari hidung dan mulut pak Joro. Akupun memcoba membersihkannya, ternyata sudah lama ia sakit parah. Akupun membaringkan tubuh pak Joro di tempat tidurnya. Terlihat ia lelah sekali.
" Jangan beri tahu Laras, Nak ". Ucap pak Joro ketika ia mengetahui aku hendak meninggalkannya.
" Baik, Pak ". Ucapku menyetujui.
" Nak, Kelak kau akan menjadi peminpin yang hebat ". Jelasnya mengusap kepalaku.
Akupun meninggalkannya saat itu juga, ia harus beristirahat. Aku tegang saat itu, peminpin kami dalam keadaan sakit, " Apakah semua ini akan berhasil ?". Tanya-tanya ku dalam hati meragu. Aku takut tanpanya tiada peminpin lagi seperti ia, yang gagah dan tekun. Aku berfikir semalam itu, aku berharap yang terbaik lah yang kami dapatkan dari rencana besar ini.
///
Serentak aku teringat sebagian apa yang telah dikatakan bapak Joro semasa hidupnya. Dalam keadaan sekarang ini, jika tiada yang meneruskan semua rencana ini, siapa lagi.
" Bapak-bapak, bukankah kalian masih mempunyai seseorang untuk kalian cintai ?". Jelasku ketika memberanikan diri membangun kembali semangat mereka.
" Jika kita mencintai seseorang yang kita cintai apakah pantas kita meninggalkannya ? ". Ucapku menyambung.
Para rakyat pribumipun mulai mendengarkanku, meski masih sangat berbising kucoba untuk terus mengatakannya.
" Kita berada di sini bukan berarti meninggalkan mereka yang berada di rumah kita, tetapi kita disinilah tempat kita berjuang untuk mereka, untuk kebahagiaan mereka. Karena merekalah kita berada disini, rela mati disini !! " Jelasku.
" Ini tanah kita, kitalah yang hidup disini, tumbuh dewasa disini, dan kitapun harus berani mati disini juga demi membelanya !"
" Yazid, kamu bisa apa, apa yang bisa kita lakukan tanpa peminpin kita ?" Jelas seorang bapak tadi yang bertekad untuk kembali pulang.
" Percayalah, kita hargai apa yang telah peminpin kita rencanakan semasa hidupnya, kita teruskan apa yang menjadi perjuangannya. Maka sekarang akulah peminpin kalian disini, akulah penganti peminpin kita ". Jelasku meyakinkan.
" Bisa apa kamu Yazid, bukankah kamu berhubungan dengan seorang anak centeng itu ? bukankah kamu juga termasuk kaki tangan mereka ?. Lebih baik sekarang kita berdamai saja dengan mereka ? ". Jelas bapak itu kembali menentang.
" Benar, aku memang tidak bisa apa-apa, tetapi dengan aku dekat dengan anak centeng itu dan rencana yang telah aku liris dengan bapak Joro. Aku bisa memahami semua ini, kita bisa meneruskan kembali rencana kita semula dengan pengalaman yang lebih ". Jelasku meyakinkan.
Semuanya terdiam, mereka mengangguk. Tidak lamapun mereka bersepakat bersatu dan memeruskan kembali rencana kami semula. Aku sangat bangga sekali pada diriku saat itu. Sejak saat itu aku berada dibarisan paling depan dalam rencana ini.
" Esok pagi kita lakukan penyerangan itu, ingatlah, semakin kita bersatu semakin kuat apa yang kita yakini ". Jelasku menutup sidang musyawarah sore itu.
Haripun gelap, kini tinggal hitungan beberapa jam lagi semua rencana ini akan terjawab. Berhasil atau tidakkah semua ini.
Semua warga pribumi pun berkumpul dilapangan sebelah depan rumah Laras beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esok pagi, semuanya terlihat bersatu. Aku percaya mereka, kami pasti berhasil melakukannya.
---
" Papa tidak menyangka, ternyata anak papa sendirilah yang menghianati misi kekaisaran negara kita ". Ucap kaisar Tsukioka Yoshitoshi ketika ia menemui Okuya dalam kurungan kamarnya.
" Meski kamu anak papa, kamu berhak mendapat hukuman seperti yang lainnya, papa tidak bisa memaafkan kamu Okuya ". Tegasnya.
" Maafkan Okuya papa, Okuya mencintai Yazid, hanya itu yang Okuya inginkan. Sedikitpun Okuya tidak pernah menghianati negara kita, papa ". Jelas Okuya memohon.
Apalah artinya semua itu, permohonan Okuya pun tiada terkabul saat beberapa pengawal menyeretnya kedalam sebuah penjara besi yang tidak jauh dari benteng kekaisarannya. Kini ia hanya bisa berharap cintanya akan mati hanya untukku, karenanya ia berfikir tidak mungkin aku menyelamatkanya dari penjara itu.
***
Fajarpun membesing menyinari bumi yang gelap, perlahan bumi tanah Koro pun berhias cahaya pagi yang hangat. Ayam-ayam yang terisia hiduppun mulai berkokok dengan penuh semangatnya menyoraki mereka yang tengah beristirahat untuk tertidur selamanya. Serentak semua pasukanpun membangunkan semangatnya membentuk barisan setelah shalat subuh tadi . Dengan rencana yang telah terliris dan keyakinan yang teguh untuk berdiri, pasukanpun mulai berlari menuju benteng pertahanan kekaisaran Jepang pagi itu.
Terlihat semua warga dan pasukan seadanya bersemangat penuh dengan keyakinanya. hanya kaum hawa dan anak-anak Dusun Roro Terjunlah yang berdiam dan berdo'a untuk seseorang yang dicintai mereka tengah akan bertempur.
" Allahu akbar " Serentak mengaba sembari melangkahkan kaki pertama mereka.
Akupun berada dibarisan depan memacu mereka berlari, dengan senjata seadanya ku acungkan dengan gagah berani. Detikpun mendekat, benteng yang kokoh bagai tembok neraka itupun mulai terlihat. Pasukan pun terbagi menjadi empat bagian, sebagian bertempur sebelah kiri dan kanan dan sebagian menyerang dari arah gerbang dan sebagian lagi berkomando dibelakang pasukan pertama yang menyerang gerbang sebagai pertahanan.
Seranganpun dimulai, aku bertugas sebagai komando pertama yang menjaga gerbang setelah pasukan pertama menyerang masuk.
Darahpun mulai membasahi bumi pagi saat itu, para tentara Jepang cukup kewalahan dengan serangan rakyat pribumi yang sangat banyak saat itu, seakan mereka tidak siap untuk mencegahnya. Barisan pertama mulai tidak berarah, mereka kelelahan dengan kekuatan tentara Jepang yang sangat tangguh meski seperti itu. Barisan sayap kiri dan kananpun mulai berterbangan menyerang dan tidak lama kini pasukan terakhirku pun menyerang masuk.
Keadaan pun mengarah kepada kemenangan rakyat pribumi, karena pasukan Jepang perlahan mengecil dan mundur. Kini tiada lagi terlihat tentara Jepang yang berdiri tegak, Mayor Yoshimura pun ku lihat tergeletak beberapa menit lalu. Tiada lagi kekuatan pasukan Kaisar Tsukioka Yoshitoshi yang kuat dan gagah berani saat itu. Beberapa pasukan rakyat pribumi yang sangat berambisi mulai menerobos kedalam bangunan tua bekas penjajahan Belanda yang kini menjadi pusat penggerak Kekaisaran Jepang itu ke segala penjuru bangunan yang ada. Mereka menghancurkanya satu persatu tanpa banyak peduli apa yang mereka pikirkan saat melakukannya.
" Allahu akbar ". Beberapa tentara pribumi mengucapkanya dengan lantang, sebagai tanda bahwa kemenangan berada ditangan kami. Mereka bersorak seraya, bersuka cita atas apa yang menjadi keberhasilan mereka. Pertempuranpun berakhir dengan kemenangan ditangan pribumi.
Sebagai penghormatan untuk arwah-arwah yang telah gugur dalam peristiwa ini ataupun dulu, mereka mempersilahkanku menurunkan bendera kekaisaran Jepang dan membakarnya. Aku sangat bangga bisa melakukan itu atas kepedulian mereka terhadapku.
" Allahu akbar !! " Teriakku menutup pertempuran itu. Semuanya mengacungkan senjata untukku, bersorak, bercita mereka semua terlihat bahagia.
Terhentak pikiranku mulai terhening, aku teringat Okuya, yang selama ini aku sayangi meski berlain tempat dunia. Ia ikut menghilang bersama tentara ayahnya yang telah hancur.
" Okuya ! ". Bentakku dalam hati.
Tanpa pikir panjang aku berlari mencarinya dari sisa-sisa puing bangunan yang ada. Para rakyatpun juga ikut sibukan diri mencari dan memilah para tentara pribumi yang telah gugur waktu itu. " Tetapi dimana Okuya ? ". Tanya hatiku mencari disela puing bangunan-bangunan itu. Ia tetap tiada. Sekian lama aku mencarinya, aku menjadi sedih, " apakah ia juga ikut terbunuh ? ", aku takut. Aku tidak menginginkan semua itu terjadi, hingga aku terus mencarinya, namun ia tetap tiada.
Hingga aku menyerah, namun ku harap Okuya hanya melarikan diri ke dalam hutan. Dengan perasaan hancur, aku menghampiri pembatas benteng itu sembari melihat-lihat kearah hutan. Masih teringat saat aku dulu pernah menjadi Gyugun dan di penjarakan disini. Penjara Gyugun terletak di perbatasan benteng ini. Iya, aku masih ingat itu. Aku terduduk menghapus lelah sejenak, sembari mengenang pahitnya hidupku dan Negeriku beberapa waktu lalu.
Tiba-tiba terdengar suara memanggilku..
" Ya..zid...". Ucapnya isak
Suara itu terputus-putus menyebut namaku itu berkali-kali, akupun mencari sumber suara itu. Ia semakin mendekat. Mataku tertuju kepada sebongkahan puing besar yang menumpuk bekas penjara Gyugun itu, karena ku yakin suara berasal dari arah sana. Ku coba hampiri dan melihatnya dari dekat.
" Astagfirullah, Anya..". Bentakku terkaget melihatnya tertindih puing besar itu.
" Yazid, ka..mu datang untuk..ku ". Ucapnya sembari terpotong-potong.
Kulihat ia sangat kesakitan sekali, aku hanya bisa melihat kedua tangan dan kepalanya dari belakang. Tanpa buang waktupun aku berteriak meminta bantuan para tentara pribumi yang ada untuk menyelamatkannya. Merekapun kini tengah membantuku mengangkat puing besar itu.
" Iya Anya, aku datang untukmu, untuk bersama selamanya ". Ucapku sembari mengangkat puing itu.
Kini ia pun terlihat seutuhnya, aku merangkul tubuhnya dan meletakannya dikedua pangkuanku yang terduduk. Ia tersenyum, sepertinya ia ingin katakan sesuatu untukku namun tidak bisa ia ucapkan. Ia pun menangis, ia menitih air mata setelah ia tersendak beberapa kali. Ia mencoba katakan lagi disela sendak dan tangisnya.
" Cintaku sampai mati, Zid.. ". Ucapnya dengan hunusan nafas.
Sendakannya pun terhenti, kini ia tersenyum sembari menutup kedua matanya perlahan.
Aku tersenyum juga saat itu untuk membalasnya, aku percaya dia, aku percaya cintanya. Aku terus pandangi parasnya yang elok itu, berharap ia akan kembali membalas senyum setelah ia pejamkan matanya perlahan tadi. Namun tidak, ia tetap pejamkan mata dan melemaskan kedua tangannya dari tanganku. Ia meningal dunia saat itu juga, ia meninggalkanku saat semuanya kembali terang untuk bersama selamanya.
Aku kembali benar-benar menangis saat itu, yang ku punya, yang ku cintai kini benar-benar tidak aku miliki lagi saat itu. Hatiku terhempas jauh sekali dalam kegagalan dan penyesalan, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan meski negeri kami kini telah terbebas dari penjajahan. Semua itu tiada artinya bagiku saat itu.
Mereka hanya bisa melihatiku lakukan itu pada Okuya untuk yang terakhir kalinya, kini mereka sadar bahwa aku benar-benar mencintainya dan bersungguh untuknya meski dengan keberbedaan itu. Terlihat kini mereka menyesali apa yang pernah mereka katakan padaku, bahwa aku telah bersekutu dengan kekaisaran Jepang karena aku menjadi kekasih Okuya anak dari centeng Jepang itu. Kini mereka benar-benar percaya bahwa aku selalu berteguh kepada tanah air meski dengan hubungan ku dan Okuya waktu itu, dengan bukti kemenangan kami itu dan rencana yang ku liris sebelumnya.
***
" Yang menjadi pertanyaan, Pak. Apakah Kekaisaran Jepang itu benar-benar habis terbunuh oleh pasukan pribumi saat itu ? Apakah bapak menjadi peminpin setelah semua itu terjadi ?. Kerena sedikitpun kami tidak mengenal bapak dalam sejarah kemerdekaan negeri ini ? ". Tanya Seorang peneliti sejarah yang duduk paling depan itu.
Tentu tidak, Nak. Karena saat itu kekaisaran Jepang terdiri dari berbagai kepeminpinan diberbagai daerah untuk lebih menguasai negeri ini. Kaisar Tsukioka Yoshitoshi lah yang tertinggi berserikat dibanding kaisar-kaisar yang lain yang tesebar di negeri ini. Karena jika ia tumbang, kaisar yang lainpun akan ikut tumbang dan bergegas ke tanah mereka kembali. Hal itu juga yang sudah terliris sebagai rencana kami saat itu.
Setelah itu semua terjadi para penjajah Jepang pun tidak terlihat lagi, mereka telah bergegas setelah mengetahui kaisar Tsukioka Yoshitoshi telah tertumbangkan pasukan pribumi. Hanya peninggalannya lah yang tersisa, salah satunya gudung tua yang ada dibelakang kita ini.
Saat itu juga aku berlari sekuat tenaga untuk melupakan apa yang telah aku alami, namun tetap aku ingat abadi semua ini. Aku berlari ke hutan tanpa seorang pun yang tahu aku lakukan itu. Kepeminpinan pun tergantikan oleh bapak Jahid yaitu ayah dari sahabatku Taha. Dialah yang menggantikan bapak Joro setelah kepeminpinannya.
Aku yang tengah sendiri dalam hutan, banyak warga pribumi yang mengabarkan aku telah meninggal dunia dengan cara bunuh diri. Ada juga yang mengatakan aku menjadi gila karena mereka tahu terakhir mereka melihatku dalam keadaan sedih atas kematian Okuya. Semua itulah yang membuatku tidak dikenal setelah kemerdekaan itu.
Namun, setelah itu untuk beberapa tahun lamanya dalam hutan, aku tersadar untuk apa aku mengasingkan diri dan ternyata aku tetap tidak bisa melupakan semua kejadian itu. Akupun kembali ke tempat semua itu berakhir, ternyata sebagian besar dari bangunan tua peninggalan Belanda dan Jepang itu masih tersisa beberapa bangunan kecil. Disanalah aku mulai berteduh dari dingin dan panasnya bumi ini. Saat itulah tempat ini menjadi rumahku.
Disana aku bisa leluasa mengenang Okuya dan kisah hidupku. Aku tetap mencintai Okuya, akupun sangat selalu merindukannya. Kadang kami bertemu hanya dalam mimpi, itupun kadang sehari sekali, terkadang seminggu sekali, sebulan sekali. Itulah ia bagiku saat ini.
Tidak lama kemudian, hanya bergeser beberapa tahun, akupun dipertemukan kembali dengan sahabat perempuan ku yang hanya satu-satunya itu. Ia Laras, anak dari almarhum bapak Joro yang aku kagumi dimasa perancangan penyerangan kekaisaran Jepang itu. Hingga saat itu mereka tahu bahwa aku masih hidup dan tidak gila. Aku pun menikah dengannya, dan kami dikaruniai empat orang anak.
Hanya karena itulah aku tidak sempat dikenal sebagai pejuang. Namun, perjuangan akan selalu ada. Apapun itu, semua itu hanyalah sebuah legenda kehidupan. Legenda yang akan selalu tertanam dalam cerita rakyat pribumi kita untuk dapat dikenang.
Para peneliti sejarah pun berbangga hati dengan isi cerita bapak Yazid Yasmin itu, mereka pun berpamitan. Kini mereka tahu bahwa kesadaran memang harus tertanam jauh di dalam lubuk hati untuk dapat mencintai dan merelakannya, serta berjuang untuk mendapatkannya. karena itulah hidup akan terasa sangat berharga meski tidak sebaik yang orang lain kira.
Semua kisah adalah sebuah legenda, dan setiap kehidupan seseorang adalah legenda kehidupannya. Jika bercerita ataupun bertanya siapakah kita? Kitalah legenda hidup kita. Tidak seorang pun yang tahu seberapa besar perjuangan kita untuk hati kita. Maka acungkanlah semangat dalam hati kita dan teriakanlah bahwa " Akulah legenda ".
Sekian...
Minggu,05 November 2010
Selasa,04 January 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar